LUPA

“LUPA”
Lupa itu tidak ingat akan sesuatu. Lupa kini bukan hanya sekedar kata-kata tetapi telah menjelma menjadi sebuah penyakit yang sedang menyerang kalangan yang sedang tersangkut masalah. Lupa menjadi alas an utama agar suatu kasus tidak bias lagi di lanjutkan. Tidak ada yang mampu memaksa seseorang untuk jujur ketika kata “lupa” sudah di ucapkan. Ketika “lupa” menjadi tren,seketika itu juga kita lupa bahwa kitapun sedang di permainkan oleh penderita penyakit itu. Ada yang menganggap itu suatu penyakit yang sulit di sembuhkan adapula yang berpendapat bahwa lupa itu hanyalah taktik jitu menghindari masalah.
Pemikiran setiap orang terhadap terhadap si penderita “lupa” sangat beraneka ragam,lupa karena ketidaksengajaan dan lupa karena unsur kesengajaan,semuanya tergantung dari penilaian orang terhadap sipenderita penyakit “lupa”. Yang membuat kita miris adalah kenapa di negri ini penyakit lupa lebih suka menyerang kalangan orang yang tersangkut masalah besar terutama soal “korupsi”. Seakan akan itulah cara terbaik untuk orang tersebut bebas dari hukuman. Dan yang menbuat mata terbelalak adalah ketika para penegak hokum juga tak berkutik melawan “si lupa” atau mungkin tertular lupa juga.
Kita sebagai masyarakat awam sangat prihatin melihat para pejabat yang terbukti bersalah namun suka berkelit dengan alasan lupa. Mau sampai kapan Negara ini akan di dominasi oleh si “lupa”. Tak pernah habis pikir kenapa orang-orang di atas sana begitu mudahnya lepas dari permasalahan hokum,berbeda dengan orang kecil yang apabila bersalah langsung saja di hukum tanpa perlu di periksa terlebih dahulu. Sungguh sangat menyesakkan dada melihat perbedaan yang ada,perlakuan para penegak hukum terhadap warga negaranya.
Dari tahun ke tahun bukan berubah kearah yang lebih baik tetapi malah bergerak kea rah kehancuran. Keadilan yang terabaikan adalah factor utama gagalnya sebuah Negara membangun sebuah kepercayaan. Masyarakat kecil rindu akan keadilan,rindu akan terciptanya keseimbangan antara hak, kewajiban dan tanggung jawab,juga rindu akan pemerintahan yang mampu menberikan rasa nyaman terhadap warga negaranya. Sebuah pemerintahan yang bersih dan tidak di isi oleh para penderita “lupa” yang ingin bebas dari jerat hukum. Sungguh kita semua rindu akan hal itu,namun entah kapan dapat terealisasi. Kita sebagai masyarakat kecil hanya dapat menunggu dan terus menunggu akan sebuah kepastian hidup.
_**_

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s