COKLAT NEK’MINAH

Pada tulisan kali ini,saya ingin menulis sebuah artikel mengenai kasus seorang petani kecil yang sudah tua bernama Nenek Minah.Sebenarnya apa yang saya tulis ini adalah kasus yang terjadi pada nek Minah 2 tahun yang lalu.Namun saya ingin sekali mengangkat topik ini menjadi sebuah tulisan di dalam blog saya.Pertama kali saya ingin memulai tulisan ini dengan menceritakan sedikit awal mula kasus nek Minah.

Nek Minah adalah seorang petani kecil yang berasal dari dusun Sidoarjo desa Darmakradenan kec.Ajibarang Banyumas Jawa Tengah.Sebagai seorang yang hidup dengan keterbatasan ekonomi,nek Minah juga sangat terbatas dalam hal pendidikan.Bahkan Ia pun tidak dapat berbahasa Indonesia,hanya dapat menggunakan bahasa daerahnya saja.

Kasus ini berawal dari keinginan nek Minah untuk menambah tanaman kakaonya,karena tanaman kakao yang sudah ia miliki masih sedikit.Maka pada suatu ketika nek Minah yang sedang berada d kebun kedelainya melihat ada buah kakao yang sudah ranum di perkebunan milik PT.RSA (Rumpun Sari Antan),maka tanpa berfikir panjang,nek Minah memetik 3 buah kakao dan meletakkannya di bawah pohon.Beberapa saat kemudian petugas perkebunan datang dan bertanya tentang siapa yang telah memetik buah kakao itu,kemudian nek Minah mengaku itu perbuatannya.Setelah di berikan nasihat bahwa perbuatannya sama saja mencuri dan nek Minah pun langsung meminta maaf kepada petugas itu lantas pulang tanpa membawa buah kakao yang tadi ia petik.

Namun apa yang terjadi,setelah beberapa hari kemudian nek Minah mendapat surat panggilan dari kepolisian.Nek Minah di adukan pihak perkebunan PT.RSA atas tuduhan pencurian 3 buah kakao.Kaget dan takut,mungkin itu yang di rasakan nek Minah pada saat itu.

Akhirnya nek Minah memenuhi setiap panggilan kepolisian dan kejaksaan guna menjalani pemeriksaan.Walaupun ia harus menempuh perjalanan yang cukup jauh menuju kota dengan biaya yang relatif mahal tentunya bagi nek Minah,yang seharusnya dapat di gunakan untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari.Hingga beberapa kali nek Minah datang sampai akhirnya sidang di laksanakan di Pengadilan Negeri Purwokerto,nek Minah tidak pernah absen sekalipun.Semua di lakukan karena sebuah tanggung jawab.

Para awak media terus menyoroti kasus ini,hingga akhirnya nek Minah d vonis penjara 1,5 bulan dengan masa percobaan selama 3 bulan.Reaksi nek Minah hanya tertunduk sambil sesekali menyeka air matanya dengan kerudungnya yang telah lusuh.Dukunganpun terus mengalir untuk nek Minah,dari mulai dukungan moral sampai materil.terlihat di setiap persidangan,para pengunjung mengumpulkan uang dengan wadah kardus demi membantu nek Minah,minimal membantu membiayai perjalanan selama persidangan.

Tidak hanya para pengunjung dan pemirsa yang menyaksikannya di media televisi yang menangis,tetapi hakim yang memvonispun tidak kuasa menahan tangis di saat membacakan vonis untuk nek Minah.

Nek Minah hanya salah satu dari sekian banyak warga negara Indonesia yang belum merasakan keadilan sesuai kesalahannya di mata hukum dan ternyata coklat nek Minah tak selezat coklat kemasan yang di gemari banyak orang.Coklat malah membawa nek Minah masuk ke ranah hukum.

Demikian sedikit tulisan saya mengenai kasus yang menimpa petani kecil bernama nek Minah.Apabila ada kesalahan dalam penulisan,mohon untuk di maafkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s